Selasa, 29 Maret 2011

Kemiskinan Libya Dalam Bayang Kekejaman Kadhafi

         TRIPOLI-Suasana di kota-kota Libya, termasuk Tripoli, terasa mencekam sejak meletusnya unjuk rasa menuntut mundurnya sang pemimpin, Muammar Kadhafi. Itu menyusul tindakan pasukan keamanan Libya yang menembaki demonstran secara membabi buta. Sejumlah laporan menyebut bahwa mayat-mayat tergeletak atau bergelimpangan di jalanan ibu kota kemarin (22/2). Menurut aktivis oposisi dan warga, jenazah para demonstran itu tewas akibat ditembak tentara yang loyal kepada Kadhafi. Mohammed Ali, anggota kelompok oposisi Libyan Salvation Front, menuturkan bahwa sebagian warga Tripoli terpaksa bersembunyi dalam rumah kemarin.

         Sebab, tentara pro-Kadhafi mengancam menembak mati siapa saja yang berkeliaran di jalan. ’’Mereka (tentara pro-Kadhafi) juga menembaki ambulans. Sejumlah demonstran yang kena tembak dibiarkan tergeletak di jalan sampai tewas kehabisan darah,’’ ujarnya kepada Associated Press dari Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) Warga Tripoli memberikan kesaksian yang sama, tetapi tak mau disebut namanya karena khawatir menjadi sasaran tentara pro-Kadhafi.
         Beberapa saksi mata menuturkan bahwa pasukan keamanan pro-Kadhafi menembaki demonstran dan massa pendukung mereka dari helikopter. Informasi lain menyebutkan bahwa pesawat-pesawat militer Libya juga membom para demonstran saat berada di jalan. Sebelumnya, pasukan keamanan Libya didukung tentara bayaran dan para pendukung Kadhafi juga telah menyerang demonstran anti-pemerintah dengan pisau, pistol, dan senapan mesin serta senjata serbu. Serangan itu terjadi di Kota Al Bayda, sekitar 200 km dari Benghazi, kota terbesar kedua di Libya.
          Gejolak di Libya sudah memasuki hari kedelapan kemarin. Hal itu dipicu oleh unjuk rasa menuntut kebebasan, demokrasi, serta tingginya pengangguran dan kemiskinan di Libya selama 41 tahun kekuasaan Kadhafi. Lembaga pengawas hak asasi manusia (HAM) yang berpusat di New York, Human Rights Watch (HRW), membeberkan bahwa sedikitnya 62 orang telah tewas dalam dua hari kerusuhan di Tripoli sejak Senin lalu (21/2). Informasi tersebut diperoleh dari saksi mata dan sumber medis di rumah sakit. HRW juga menginformasikan bahwa secara total sedikitnya 233 orang tewas dalam delapan hari unjuk rasa dan kerusuhan di Libya. Informasi yang didapat Federasi Internasional untuk HAM (IFHR) justru menyebut, korban tewas ditaksir mencapai 400 orang sejak unjuk rasa meletus 15 Februari lalu.
         Namun, seperti dikutip CNN, Wakil Dubes Libya untuk PBB Ibrahim Dabbashi menaksir korban jiwa menembus 800 orang akibat pembantaian terhadap demonstran. Tripoli masih membara kemarin. Intimidasi tentara dan tembakan senjata terus terdengar di seantero kota itu. Pasukan keamanan memagar betis Fashluum, pinggir Tripoli, dan menembak siapapun yang lewat. Seorang perempuan di Tripoli yang menjadi saksi mata melukiskan bahwa suasana kota terasa tegang dan sangat mencekam kemarin pagi. ’’Kami dengar sangat sering suara tembakan dan ledakan. Semuanya berbaur dengan suara demonstran dan bunyi sirene,’’ katanya. Petugas pemadam kebakaran, lanjut dia, tak bisa menjinakkan api yang membakar People’s Hall (gedung pemerintah). Akibat situasi itu, terjadi kelangkaan pangan dan bahan bakar. Warga kesulitan mendapatkan kedua barang tersebut di seantero Tripoli.
          Seorang warga di Gargaresh, pinggiran sebelah barat Tripoli, mengaku tidak bisa membeli kedua barang itu. Pompa bensin tutup, sedangkan bahan pangan sudah tak lagi dijual di toko. ’’Kelangkaan itu sepertinya disengaja oleh rezim yang berkuasa untuk membatasi gerak massa,’’ tudingnya. Pembunuhan masal dan pembantaian atas para demonstran di Libya langsung memicu reaksi dunia. Negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) mengutuk keras jatuhnya korban dalam jumlah besar akibat pembantaian tersebut. Kecaman datang pula dari negara-negara Teluk, yang notabene masih tetangga dekat Libya. Sekjen PBB Ban Ki-moon langsung menyuarakan kemarahannya terkait penembakan atas demonstran dari pesawat tempur dan helikopter.
         Ban berbicara langsung lewat telepon dengan Kadhafi selama 40 menit. Dalam kesempatan itu, Ban meminta Kadhafi segera menghentikan kekerasan di negaranya. ’’Menurut sekjen, jika benar, serangan seperti itu terhadap warga sipil merupakan pelanggaran serius terhadap undangundang kemanusiaan internasional. Jadi, itu harus dikutuk,’’ kata juru bicara PBB Martin Nesirky. Menlu Jerman Guido Westerwelle menyebut rezim di Libya pantas dijatuhi sanksi internasional karena tindakannya tersebut. Dia tidak merinci sanksi yang mungkin dikenakan. Tetapi, Westerwelle mengaku telah meminta dubes Jerman di PBB untuk mendesak dewan keamanan (DK PBB) bertemu. Merespons situasi di Libya, DK PBB mengadakan pertemuan konsultasi darurat Selasa siang atau sore waktu AS (Rabu pagi WIB). Belum diketahui apa agenda yang akan dibicarakan atau kemungkinan tindakan (sanksi) yang akan diambil. Komisi Tinggi untuk HAM (UNHCHR) juga telah mendesak investigasi internasional atas pembantaian terhadap warga sipil tersebut.
          ’’Serangan luas dan sistematis pada warga sipil itu bisa mengarah pada kejahatan terhadap kemanusiaan,’’ kata Komisioner UNHCHR Navi Pillay. Dia mendukung UNHCHR mengadakan rapat darurat. Keputusannya diserahkan kepada 47 negara anggota. Kebrutalan tentara dan rezim Kadhafi menuai reaksi. Sejumlah unit militer membangkang dan bergabung dengan demonstran. Bahkan, tentara anti-pemerintah bersama pengunjuk rasa kini menguasai kotakota di timur Libya, termasuk Benghazi. Dua pilot pesawat tempur Libya yang berpangkat kolonel kemarin meminta suaka politik ke Malta. Keduanya mendarat dengan jet tempur yang mereka piloti. Dua perwira itu membelot karena menolak perintah untuk mengebom demonstran atas perintah Kadhafi dan anaknya, Seif al- Islam.
           Jumlah pejabat dan diplomat Libya yang mundur juga bertambah. Dubes Libya untuk AS Ali Aujali menolak patuh kepada rezim di negerinya. Dia malah mendesak militer mengambil-alih kekuasaan dengan menggulingkan Kadhafi. Sikap mundur juga disampaikan Dubes Libya untuk Bangladesh Ahmed A.H. Elimam dan Dubes untuk Indonesia Salaheddin M. El Bishari. Mereka tidak bisa menerima perlakuan terhadap demonstran. Mereka mengikuti jejak dubes Libya di India dan diplomat senior Libya di Tiongkok. Nuri al-Mismari, yang menjabat sebagai kepala protokol negara dan juga menjadi pembantu Kadhafi selama 40 tahun, juga mundur.

sumber : www.indopos.co.id

0 komentar:

Posting Komentar